Persaingan Saudara Kandung

Oleh Alia Grace J.
(Wali Murid TK A dan Toodler KBTKIT Al Uswah)

Ketika saya dinyatakan hamil lagi oleh dokter kandungan, masalah Persaingan Saudara Kandung sudah membayangi saya sampai usia kehamilan saya memasuki usia 7 bulan.
Saya akhirnya memutuskan mencari banyak informasi dari buku-buku, sayangnya masih jarang buku-buku membahas masalah konflik antar saudara kandung. Padahal kalau kita mau jujur dan melihat sekeliling, masalah ini sudah umum terjadi, bahkan bisa menimbulkan masalah yang lebih rumit lagi ketimbang hanya sekedar persaingan antara kakak dengan si adik.
Kenyataan yang sering saya lihat, banyak orang tua yang akhirnya membiarkan saja anak mereka bertengkar atau berkelahi, dengan harapan jika mereka lelah bertengkar akan berhenti sendiri. Lebih ekstrimnya lagi, ada orang tua yang tidak mau ambil pusing, maka masalah tersebut dilimpahkan kepada para “embak” atau babysitter saja, tanpa mau peduli apa yang menjadi akar permasalahan antara si kakak dengan adiknya.
Kami ( saya dan suami ) pun mulai berpikir, “anak- anak kita tidak boleh seperti itu”. Mungkin kelihatannya hal sepele, tinggal si kakak atau si adik yang harus mengalah maka masalahpun selesai. Namun pernah kah terpikir “perasaan” si anak yang harus mengalah ?
Untuk menghindari hal- hal yang tidak kami inginkan, akhirnya kami banyak berkonsultasi dengan teman-teman, kerabat dekat, bahkan dengan dokter kandungan dan dokter anak kami. Dari beberapa masukkan itu pun kami memulainya dengan mempersiapkan anak kami yang pertama, walupun si adik masih dalam kandungan. Sebelum terlambat, kami berusaha menanamkan rasa saling menyayangi di dalam keluarga. Kami pun mulai memanggil anak kami yang pertama dengan embel-embel Abang ( kakak ). Setiap dongeng mau tidur, saya selalu mencari buku dongeng yang menyinggung tentang kasih sayang kakak dan adik, sehingga si Abang mulai mengerti bahwa kakak dan adik itu saling memiliki dan mereka sudah seharusnya saling menyayangi dan saling mendukung.
Ketika Usia kehamilan saya memasuki bulan ke 9, saya mulai sering mengajak si Abang ketika saya harus control ke dokter kandungan. Melihat si adik kecil melalui USG 3D sungguh mengubah cara pandang si Abang terhadap dirinya dan adik yang akan segera dia miliki. Abang mulai bangga dengan dirinya karena dia adalah si “Abang” , setiap kali orang menanyakan siapa namanya Abang dengan bangga mengatakan namanya dengan embel-embel Abang’, dia pun selalu memperkenalkan adiknya yang masih di dalam perut dengan embel-embel adik kecil.
Bulan ke 10 adik kecil lahir dengan sehat, Abang terpaksa harus berpisah dengan Bundanya selama 3 hari. Selama saya di RS Bersalin, saya selalu menyempatkan untuk menelpon Abang dan Suami selalu menyempatkan mengajak Abang jalan- jalan untuk membeli perlengkapan bayi. Saat Adik bayi di bawa pulang ke rumah, sengaja saya tidak menggendong si adik, sehingga sesampainya di rumah saya bisa langsung memeluk abang dan berbincang- bincang dengan Abang tentang kegiatannya sehari- hari selama Bunda di RS Bersalin.
Ketika si adik kecil banyak menghabiskan waktu saya di rumah, saya mulai berpikir lagi bagaimana mengatasi kecemburuan abang yang sekarang menjadi suka bertingkah dan rewel. Kami memutuskan untuk “membantu” abang mengatasi rasa cemburunya dengan memberikan kesibukan yang bisa membuat dia merasa bersemangat dan bisa melupakan perasaan cemburunya selama di rumah. Akhirnya memasukan Abang ke sekolah adalah pilihan terakhir yang kami rasa tepat. Kami pun mencoba untuk mengalah demi anak- anak, ketika Abang sekolah, saya akan menemani Abang selama di sekolah. Di sini kami berdua bisa bermain bersama, abang melihat bagai mana bunda nya berinteraksi dengan ibu guru dan lingkungan baru, abang belajar bagai mana main bergantian dan mulai mengerti istilah mengantri. Belajar memahami teman- temannya, abang mulai menunjukan rasa empati ketika adik bersedih maka abang ikut sedih dan mengendalikan emosi nya….Alhamdulillah, sekolah dan masukan dari ibu guru banyak membantu kami menjadi lebih bijak dalam mengatasi persaingan dan konflik antara kakak dan adik.
Dari sekolah juga kami ber-4 belajar untuk membuat peraturan yang kami sepakati bersama, seperti Tidak boleh main pukul, cubit,saling berteriak atau mengejek. Biasanya saya menggunakan hadis “Kasih Sayang”, kalau tidak sayang tidak akan disayang, kalau tidak mau di cubit ya’ jangan mencubit, kalau tidak mau di ejek ya’ jangan mengejek .
Untuk masalah Rebutan, biasanya kami tidak menyelesaikan dengan cara kakak harus mengalah dengan adik, kami takut yang mengalah akan tersakiti atau tidak terima. Maka dari itu kami biasa membuat kompromi, salah satu harus mengalah atau tidak dapat sama sekali, barang yang diperebutkan akan saya taruh di atas lemari sampai mereka memutuskan siapa yang bermain duluan atau bermain bersama. Biasanya Abang cenderung membuat keputusan dan adik selalu menerima apa kata Abang, tapi keputusan yang di buat Abang biasanya membiarkan adik bermain duluan sampai si adik bosan, baru setelah itu Abang yang memainkannya. Anak- anak memang unik kan ?
Yang bisa saya rasakan saat anak- anak sudah berumur 5th ( Abang ) dan 3th ( adik ) adalah….Teladan dari ke dua orang tua biasanya lebih ampuh dari pada seribu omelan dan berjam-jam Nasehat. Dari cara anak- anak meminta maaf bila melakukan kesalahan. Merupakan cerminan sikap Ayah yang selalu minta maaf kepada Bunda bila pulang telat atau lupa melakukan sesuatu. Anak- anak biasa mengucapkan terima kasih, hal ini cerminan sikap kami yang selalu mengucapkan terima kasih kepada anak- anak bila mereka membantu kami mengambilkan sesuatu.
Memang tidak mudah mengendalikan perilaku anak-anak apalagi jika kita para orang tua sudah lelah bekerja seharian dan masih mendengarkan keributan yang tiada hentinya di rumah. Yang penting kita sebagai orang tua harus sabar dan terus berusaha, karena untuk mendidik anak butuh waktu dan proses serta kerja keras di tambah kreativitas.
Semoga pengalaman kami ber-4 dapat memberikan ide untuk mengatasi keributan yang terjadi di rumah.
Bijaksana-lah dalam memperlakukan buah hati anda, hargailah mereka dengan cara yang berbeda-beda sesuai karakternya masing- masing. Karena Allah menciptakan setiap anak dengan ke-unik-annya masing- masing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s