Memilih Guru Terbaik Bagi Anak-anak Kita

Oleh Alfie Niamah Febriana, SSi
(Ketua komite KBTKIT Al Uswah)

Salah satu tanggung jawab orang tua adalah memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya. Tanggung jawab ini tidak cukup dikerjakan sendiri namun harus menggandeng mitra yang sejalan untuk mengawal tumbuh kembang anak-anak seoptimal mungkin. Banyaknya pilihan mitra yaitu sekolah-sekolah yang ada, menjadikan orang tua harus pandai-pandai menyeleksi sekolah seperti apa yang pas bagi ananda tercinta. Bukan sekedar fasilitas, kurikulum, sistem belajar, atau gengsi semata, tetapi aktor di balik semua itu yang akan memegang peranan.
Sebuah pengalaman menarik, ketika mencari sekolah untuk playgroup, salah satu alternatif adalah sebuah TK Islam dengan fasilitas superlengkap, kurikulum bagus, juga proses pembelajaran yang menarik. Background Kepala Sekolahnya adalah Psikologi yang saya perhatikan banyak melakukan revolusi-revolusi belajar yang belum jamak pada waktu itu. Pilihan yang layak dipertimbangkan. Namun betapa shock-nya, ketika suatu sore secara tidak sengaja, saya temukan salah seorang gurunya, dengan celana pendek dan kaos ketat, membeli bakso dari penjual bakso keliling di pinggir jalan. Padahal pada saat yang sama, anak-anak didik yang tinggal di sekitarnya sedang bermain menghabiskan waktu sore. Ada yang main petak umpet, kejar-kejaran, bermain sepeda, bahkan juga bertegur sapa dengan sang ibu guru ini. Apa yang aneh? Menurut saya, guru ini sudah menunjukkan ke-tidak konsisten-an antara ucapan dan perbuatan. Bagaimana mungkin ketika guru di sekolah mengenalkan dan mengajarkan konsep menutup aurat, tetapi pada saat yang sama dilanggar dengan begitu mudahnya? Perlu diingat, bagi anak, segalanya berbicara. Apa yang mereka lihat, dengar, raba, dan alami menjadi pengalaman yang akan menambah perbendaharaan mereka. Ini baru tentang satu hal, bagaimana dengan hal lainnya?
Satu hal penting yang harus kita sadari adalah kita berharap guru-guru tidak hanya pandai mentransfer materi pelajaran, tetapi juga mampu membentuk perilaku yang baik bagi anak didiknya dengan keteladanan di manapun ia berada. Bagaimana kita bisa berharap anak kita menjadi sholih dan sholihah jika model gurunya seperti ini? Padahal guru khususnya di tingkat TK dan SD adalah orang yang menjadi panutan anak-anak setelah orang tuanya di rumah. Maka jangan heran kalau kata-kata guru lebih “mempan” daripada pesan ibunda.
Ketika pindah ke kota lain, perburuan sekolah berulang lagi. Ada pembukaan cabang baru sebuah TKIT yang sudah dikenal berkualitas di kota tersebut. Sekali lagi, bukan fasilitas kelas ber-AC atau tidak yang saya tanyakan. Saya juga tidak khawatir dengan kurikulum atau sistem pembelajaran karena TKIT mempunyai standar yang bisa dijadikan jaminan. Ketika menemui Kepala Sekolah, saya hanya menanyakan bagaimana guru untuk cabang yang baru ini, berapa jumlahnya, latar belakang pendidikannya, pengalaman mengajar, ada pembinaan rutin atau tidak, sering mengikuti pelatihan atau tidak. Maka, ketika saya mendapat jawaban yang memuaskan, saya tidak ragu untuk menjadikan anak saya sebagai bagian dari assabiqunal awwalun, angkatan pertama di sekolah cabang yang baru dibuka itu.
Seorang guru yang hebat akan dapat mensiasati fasilitas yang ada untuk memberikan pengalaman belajar yang berharga. Apalagi jika semua fasilitasnya benar-benar ada. Salah satu bukti baru-baru ini. Bagaimana seorang Bu Mus, guru SD-nya, menjadi sumber inspirasi bagi seorang Andrea Hirata sehingga melahirkan Tetralogi yang bahkan sekuel pertamanya Laskar Pelangi, diangkat menjadi film fenomenal yang ditonton jutaan orang dan memberi banyak inspirasi bagi dunia pendidikan. Begitu dahsyat pengaruh seorang guru bagi anak-anak didiknya.
Kita sebagai orang tua tidak boleh luput menjadikan faktor guru sebagai pertimbangan penting manakala memilih sekolah bagi anak kita. Bukan semata gengsi atau prestise karena sebuah sekolah sudah dikenal, tapi cari tahu dengan benar -ini hak kita lho untuk menanyakan- bagaimana sekolah mempunyai sistem untuk menjaga dan meningkatkan kualitas guru-gurunya. Perhatikan apakah kita bisa menemukan semangat, optimisme, antusiasme, ketulusan, kreativitas, dan inovasi dari guru yang ada, karena itulah yang dibutuhkan anak-anak kita. Jika mereka tidak punya, bagaimana bisa memberikan kepada anak-anak didiknya? Apalagi untuk sekolah Islam, ada kriteria lebih yang harus ditambahkan. Profil guru juga dapat dilihat dari aktifitas ibadah keseharian yang dilakukan. Minimal dari sekolah ada standar dan kontrol akan hal ini. Orang tua bisa menanyakan apa sekolah punya ketentuan, berapa ayat yang harus dibaca para guru dalam tilawah Al Qur’an sehari-hari, bagaimana dengan sholat dhuha, sholat tahajudnya, juga hafalan Al Qur’an yang dimiliki.
Sedetail itu?
Ya.
Karena aktifitas ibadah harian ini bisa menjadi parameter awal kesholehan bapak/ibu guru, yang jelas akan berbanding lurus dengan kualitas pengajaran yang dapat mereka lakukan. Mereka bukan guru biasa, tapi guru yang amanah dengan orientasi jauh ke depan. Bukan semata nominal materi yang mereka harapkan, tetapi tanggung jawab untuk membentuk anak yang sholeh disadari betul oleh mereka. Insya Allah, pahala akan terus mengalir dari ilmu yang mereka ajarkan yang dimanfaatkan oleh anak didiknya. Dan guru seperti inilah yang dibutuhkan anak-anak kita, agar bisa menjadi generasi muslim yang tangguh menghadapi gilasan jaman yang semakin tidak karuan.
Bagi saya, seorang ibu yang belum sholeh-sholeh amat, saya yakin bahwa anak saya akan ”kecipratan” atau terpercik kesholehan dari guru-gurunya. Saya juga yakin, guru-guru ini senantiasa tulus mendoakan murid-muridnya dalam tahajud di sepertiga malam, bukan hanya ketika musim ujian saja. Maka tugas saya sebagai orang tua adalah, harus berani memastikan bahwa anak saya berada di tangan guru-guru yang terjaga kesholehannya. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s