Al Uswah Center’s Blog

KB-TK-PUSAT PELAYANAN KONSULTASI DAN PSIKOLOGI-SEMPOA-PENITIPAN ANAK

METODE BELAJAR MEMBACA FONIK

Metode ini dikembangkan oleh Sumarti M Thohir, tokoh pendidik lulusan Sastra Indonesia Universitas Brawijaya Malang. Bu Marti demikian panggilannya,adalah tokoh pendidikan yang memiliki banyak pengalaman, tidak hanya didalam negeri tapi juga di Malaysia dan Singapura.
Fonik, begitu sebutannya, tidak hanya mengajarkan anak membaca tpi juga mengajarkan kemampuan berbahasa. Sehingga dengan fonik anak tidak hanya bisa membaca tapi juga bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Lalu, mengapa harus fonik???? kan masih banyak metode-metode membaca lainnya yang beredar disekitar kita.Hal ini disebabkan karena banyak keunggulan fonik, diantaranya :
a. Pengajaran fonik sesuai dengan kerja otak
b. Mudah dilaksanakan (dengan peraga-peraga sederhana yang bisa diusahakan sendiri)
c. Sesuai dengan karakter bahasa
d. Meningkatkan keterbacaan
e.Mengajarkan bahsa secara menyeluruh
Fonik memiliki beberapa tahapan, yaitu menyimak, berbicara, menulis dan membaca.

Menyimak
Pada tahapan ini, pembelajaran dilakukan dengan bercerita dan menyanyi.Ada panduan lagu mulai A sampai Z.

Berbicara
Pembelajaran dilakukan dengan memberikan buku gambar seri dan pertanyaan kritis pada anak. Tujuan dari 2 tahap ini adalah anak berlatih menyimak, berkonsentrasi dan memperkaya kosa kata yang dimiliki anak.

Menulis
Merupakan persiapan motorik, pengetahuan bunyi dan bentuk huruf. Tujuannya agar anak dapat konsentrasi, mengkoordinasi mata dan tangan serta mengembangkan persepsi.

Membaca
Pada tahap ini anak belajar berbahasa dari tatanan bahasa yang paling kecil sampai tingkat yang paling rumit (yaitu dari fonim, suku kata, kata frase dan kalimat) dan dimulai dari benda konkret ke benda yang abstrak.
Pada tahap membaca ada 3 level. Tapi di KBTKIT Al Uswah, target kelulusan ada di level 2. Kenapa, karena kemampuan anak di level tiga setara dengan anak kelas 5 SD (Subhanallah).

Bagaimana dengan target tiap level?????diharapkan di level 1,anak mengenal bunyi dan lambang,bisa menggambungkan dua bunyi atau lebih untuk satu suku kata , dapat membentuk kata dan anak mengetahui bahwa tiap kata punya makna. sedangkan di level 2, diharapkan anak lancar membaca mengerti bahwa setiap kata pinya makna dan tahu adab membaca.

10 Komentar »

METODE Beyond Center and Circle Time (BCCT) UNTUK PENDIDIKAN PAUD

oleh Dwi Nova Wardani C, S.Si

sentra eksplorasi

sentra eksplorasi

RESUME
Institusi pendidikan untuk anak usia dini (PAUD) memerlukan metode pembelajaran yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi anak dan mampu merangsang seluruh aspek kecerdasan anak. Metode pembelajaran baru telah dikembangkan oleh Creative Center for Childhood Research and Training (CCCRT) di Florida, USA dikenal dengan nama metode Beyond Center and Circle Time (BCCT). Dalam pendekatan BCCT proses pembelajaran diatur dalam bentuk kegiatan yang ditujukan agar anak belajar dengan mengalami bukan hanya sekedar mengetahui ilmu yang ditransfer oleh guru. Pembelajaran berpusat pada anak dan peran guru hanya sebagai fasilitator, motivator dan evaluator. Sehingga otak anak dirangsang untuk terus berfikir secara aktif dalam menggali pengalamannya sendiri bukan sekedar mencontoh dan menghafal saja.

Selain kualitas guru, tersedianya sarana dan prasarana, metode pembelajaran dalam suatu institusi pendidikan merupakan salah satu hal yang penting dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar. Penentuan metode pembelajaran yang sesuai dengan visi institusi pendidikan akan memudahkan bagi para pendidik untuk lebih memfokuskan pembelajaran di dalam kelas. Khususnya institusi pendidikan untuk anak usia dini (PAUD) memerlukan metode pembelajaran yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi anak dan mampu merangsang seluruh aspek kecerdasan anak.
Strategi belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar telah diterapkan hampir diseluruh pusat PAUD karena memang bermain merupakan dunia anak dan media belajar yang baik untuk anak. Anak dapat belajar melalui permainan mereka sendiri. Pengalaman bermain yang menyenangkan dapat merangsang perkembangan anak baik secara fisik, emosi, kognisi maupun sosial.
Metode pembelajaran yang sinergis dengan strategi belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar telah dikembangkan oleh Creative Center for Childhood Research and Training (CCCRT) di Florida, USA dikenal dengan nama metode Beyond Center and Circle Time (BCCT). Metode ini telah diterapkan di Creative Pre School Florida USA selama lebih dari 25 tahun, baik untuk anak normal maupun anak dengan kebutuhan khusus. Metode BCCT ini merupakan pengembangan metode Montessori, Highscope dan Reggio Emilio.
Konsep belajar yang dipakai dalam metode BCCT difokuskan agar guru sebagai pendidik menghadirkan dunia nyata di dalam kelas dan mendorong anak didik membuat hubungan antara pengetahuan, pengalaman, dan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga otak anak dirangsang untuk terus berfikir secara aktif dalam menggali pengalamannya sendiri bukan sekedar mencontoh dan menghafal saja. Menurut Jean Piaget (1972), “anak- anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri, guru tentu saja dapat menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat tetapi yang terpenting agar anak dapat memahami sesuatu, ia harus membangun pengertian itu sendiri, ia harus menemukan sendiri”.
Dalam pendekatan BCCT proses pembelajaran diharapkan mampu berjalan secara alamiah dalam bentuk kegiatan yang ditujukan agar anak belajar dengan mengalami bukan hanya sekedar mengetahui ilmu yang ditransfer oleh guru. Metode ini juga memandang bermain sebagai media yang tepat dan satu-satunya media pembelajaran anak karena disamping menyenangkan, bermain dalam setting pendidikan dapat menjadi media untuk berfikir aktif dan kreatif.
Pembelajaran yang berpusat pada anak dan peran guru hanya sebagai fasilitator,motivator dan evaluator merupakan ciri dari metode BCCT ini. Kegiatan anak juga berpusat pada sentra-sentra main yang berfungsi sebagai pusat minat yang memiliki standart operasional prosedur yang baku dan memiliki pijakan-pijakan dalam proses pembelajarannya.
Metode BCCT ini dapat dijadikan metode pilihan yang digunakan institusi pendidikan PAUD mengingat saat ini pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai fakta yang harus dihafal dan gurupun masih menjadi pusat pembelajaran atau informasi. Dengan penerapan metode BCCT, kecerdasan anak dapat dikembangkan secara optimal dan anak distimulus untuk menjadi anak yang aktif, kreatif dan berani. Anak dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, mengeluarkan ide-ide yang dimilikinya serta menggunakan pengetahuan dan ketrampilan yang telah dialami. Sedangkan tugas guru hanya memfasilitasi agar informasi yang baru mereka terima lebih bermakna serta memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan dan menerapkan ide-idenya sendiri.
Bagaimana cara mempraktekkan metode BCCT ini di dalam kelas ? Metode BCCT diterapkan pada kelas yang telah dirancang dalam bentuk sentra-sentra, misal: Sentra persiapan, sentra bermain peran baik mikro maupun makro, sentra rancang bangun, sentra musik dan olah tubuh, sentra IT, sentra IMTAQ, sentra seni dan kreatifitas dan sentra sains. Setiap guru bertanggung jawab pada 10 – 12 anak saja dengan moving class setiap hari dari satu sentra ke sentra lainnya.
Ciri khusus yang dimiliki BCCT adalah empat pijakan, yaitu : pijakan lingkungan, pijakan sebelum bermain, pijakan saat bermain dan pijakan setelah bermain. Pijakan-pijakan ini harus diikuti oleh guru guna membentuk keteraturan antara bermain dan belajar. Dalam pijakan lingkungan, guru menata lingkungan yang sesuai dengan kapasitas dan keragaman jenis permainan anak. Pijakan sebelum bermain dilakukan guru dengan meminta anak untuk duduk membentuk sebuah lingkaran sambil bernyanyi, setelah berdo’a bersama guru menjelaskan kegiatan sentra dengan alat peraga yang telah dipersiapkan. Selanjutnya guru bersama anak membuat aturan bermain yang disepakati bersama. Pijakan saat bermain merupakan waktu bagi guru untuk mencatat perkembangan dan kemampuan anak serta membantu anak bila dibutuhkan. Perlu dipahami bahwa didalam metode BCCT berlaku tiga jenis bermain. Pertama, bermain sensorimotor atau fungsional yang memfungsikan panca indra anak agar dapat berhubungan dengan lingkungan sekitar. Bermain sensorimotor penting untuk mempertebal sambungan antar neuron. Kedua, bermain peraan baik mikro maupun makro dimana anak diberi kesempatan menciptakan kejadian-kejadian dalam kehidupan nyata dengan cara memerankannya secara simbolik. Ketiga bermain pembangunan, Piaget (1962) menjelaskan bahwa kesempatan main pembangunan membantu anak untuk mengembangkan ketrampilannya yang akan mendukung keberhasilan sekolahnya dikemudian hari. Apabila ketiga jenis bermain tersebut dapat dilakukan oleh anak secara optimal memungkinkan adanya ketuntasan belajar dan perkembangan anak baik secara fisik, kognisi, emosi maupun sosial. Sehingga mereka dapat dengan mudah memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Pijakan yang terakhir adalah pijakan setelah bermain dimana anak dapat menceritakan pengalaman bermain mereka serta guru dapat menggali dan menanamkan pengetahuan pada anak.
Berdasarkan survei yang telah dilakukan, pusat-pusat PAUD di Surabaya yang telah menggunakan metode BCCT ini kurang lebih hanya 25 % institusi saja. Namun praktek dilapangan yang sering terjadi adalah kurang maksimalnya realisasi perangkat-perangkat metode BCCT dengan baik. Oleh karena begitu penting dan bermanfaatnya metode BCCT ini dalam metode pembelajaran untuk PAUD, maka alangkah baiknya bila Dinas Pendidikan mengadakan diklat atau pelatihan bagi guru atau institusi yang memerlukan informasi mengenai metode ini. Dengan demikian pendidikan khususnya PAUD dapat berkembang secara optimal dan dapat memenuhi kebutuhan anak.

2 Komentar »

METODE PEMBELAJARAN

Pembelajaran ditujukan untuk merangsang seluruh aspek kecerdasan (multiple intelligences). Dengan menggunakan metode bermain sambil belajar yang berpusat pada anak, dimana anak secara aktif, kreatif dan bertanggungjawab di sentra-sentra pembelajaran berbasis pijakan guna mengembangkan dirinya seoptimal mungkin sesuai dengan potensi, minat dan kebutuhan
Ruangan dirancang dalam bentuk sentra-sentra (persiapan, imajinasi, rancang bangun, musik dan olah tubuh, english dan computer, seni dan kreatifitas dan eksplorasi). Setiap kelas dibimbing oleh dua guru, dimana ratio guru : murid adalah 1 : 7 untuk kelompok bermain dan 1 : 10 untuk TK
Tenaga pendidik di KBTKIT Al Uswah memiliki komitmen dan kompetensi sebagai pendidik profesional, sabar, mencintai dunia anak dan berakhlaqul karimah. Mereka adalah tenaga pilihan yang mendidik dengan cinta dan keteladanan. Upgrading tenaga pendidik dilakukan setiap bulan guna meningkatkan skill, kompetensi dan kebersamaan sesama guru. Juga didukung tim litbang yang terdiri dari tenaga ahli pendidikan anak usia dini dan tenaga ahli psikologi.

1 Komentar »

KURIKULUM KBTKIT AL USWAH

Dengan tetap mengacu pada kurikulum Depdiknas, sebagai sekolah Islam Terpadu, KBTKIT Al Uswah memiliki keunggulan yaitu diterapkannya kurikulum terpadu yang memadukan pendidikan umum da agama, memadukan secara utuh ranah kognitif, afektif dan psikomotorik serta melibatkan orang tua dan masyarakat untuk berperan serta. Kurikulum pendidikan KBTKIT Al Uswah difokuskan dalam 8 aspek perkembangan anak :
1.Islam
Menanamkan dan menumbuhkan iman kepada Allah SWT pada setiap materi yang diberikan, meneladani Rasulullah SAW, serta mengenalkan ibadah sholat
2.Akhlaq
Menanamkandan mengembangkan karakter Islam dalam diri anak
3.Al Qur’an
Membaca Al Qur’an melalui metode yang tepat serta menghafal Al Qur’an, Hadist dan do’a sehari-hari
4.Bahasa
Menggali potensi berbahasa serta menambah perbendaharaan kata dalam iri anak
5.Kognitif
Menanamkan konsep-konsep dasar pengetahuan (matematika, sains, pemecahan masalah)
6.Fisik Motorik
Menggali dan mengarahkan potensi motorik kasar dan motorik halus pada diri siswa dalam rangka pengembangan fisik dan persiapan membaca dan menulis
7.Seni
Menggali dan mengasah kreatifitas dengan mengikutsertakan imajinasi anak
8.Computer dan English
Menanamkan pembelajaran dengan komputer serta memperkenalkan bahasa asing disamping bahasa ibu

Tidak ada Komentar »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.